Kamis, 17 Februari 2011

HARAPAN MOU YANG TERTUNDA

HARAPAN MOU YANG TERTUNDA
OLEH: SAIFUL AMRI
Lima tahun sudah terlawati dengan suasana damai yang benar damai, MOU helsinki yang telah disepakati antara GAM dan RI masih berjalan ditempat, pemerintah Aceh pimpinan Irwandi-Nazar seolah tak merasa berdosa pada rakyat Aceh ketika poin-poin MOU tidak dilaksanakan dengan penuh hati oleh pemerintah Jakarta, keduanya bahkan sibuk menggurus masa depannya sendiri, bukan malah memikirkan nasib MOU yang dulunya susah payah dicapai kedua belah pihak ( GAM- RI ), dengan ada MOU lah mereka dapat menduduki tampuk pemerintah Aceh, dengan lahir moulah mereka dapat menghirup kembali udara segar setelah beberapa tahun disel oleh pemerintah RI.
Rasanya berat bagi mereka mengucapkan terima kasih, kepada orang tua perjuangan, atas jasa mereka, IRNA ( Irwandi-Nazar ) dapat menikmati hidup bebas dan mengenyam kekuasaan di Aceh, sepertinya mereka telah larut dengan kekuasaan itu sendiri, kekuasaan itu sepertinya telah membunuh hati mereka, peduli mereka terhadap cita-cita perjuangan Aceh. Walaupun dulu mereka seirin g bahu seayun langkah bersama orang tua perjuangan dalam menggerakkan, membumingkan suara, kepentingan, keingingan bangsa aceh kepada dunia internasional.
Harapan besar bangsa ( meneruskan cita-cita perjuangan ) setelah peralihan dari perjuangan bersenjata ke perjuangan urat saraf telah dipercayakan sepenuhnya kepada mereka khusunya untuk pelaksanaan butir kesepakatan MOU, hal itu dianggap sanggat penting karena menyangkut kewenangan, pembentukan selgoverment, dan kebebasan dalam perdaganggan dengan dunia internasional. Harapan itu pun sirna dalam lima tahun IRNA yang hampir berakhir ini. Tak satu poin kewengan pun berhasil mereka rebut dari jakarta. Inilah yang munkin jadi alasan PA tidak lagi mencalonkan IRNA dalam pemilukada 2011 ini.
Era Kemunduran Perjuangan
Era IRNA adalah era kemunduran perjuangan, termasuk ketitik yang sangat memprihatinkan, hal ini sangat berpengaruh terhadap cita-cita perjuangan dan turunya nilai-nialai Nasionalisme ke Acehan dari jiwa pejuang Aceh. Mereka telah disibukkan dengan kenikmatan sesaat, sibuk dengan proyek-proyek yang tidak besar, dan tidak populer. beberapa diantara petinggi nya juga terlihat tidak peduli dengan nasib masyarakat sekitar mereka, sikap apatis ini sangat tajam berkembang di kalangan masyarakat bawah, sehingga penilaian miringpun sering dilebelkan pada mereka. Lebeling sudah sampai pada tingkat sangat memprihatinkkan, mengingat yang memberi lebel miringpun masyarakat yang dulu mempertaruhkan nyawanya dalam memnbantu mereka ketika konflik berkecambuk di Aceh. Jika ini terus dibiarkan tidak heran semangat perjuangan pun pudar dan hilang dari jiwa mereka dengan sendirinya.
Paket Zaim, Paket Perjuangan
Sudah saatnya bangsa ini memikirkan kembali cita-cita perjuangan yang kelam dalam lima tahun sebelumnya. Harapan MOU yang tertunda menjadi alasan utama paket ZAIM, lobi politik yang gagal lima tahun yang lalu akan menjadi tugas pokok paket ZAIM, disamping tugas tugas pemerintahan lain, jika nantinya paket itu gol menjadi orang nomor dan nomor dua Aceh. Bakal CAGUB-CAWAGUB yang di usung PA ini akkan mendajadi tantangan dan warna tersediri dalam perpolitikan Aceh Vs Jakarta.
Seputar Kabar Retak PA
Kabar PA pecah yang dimuat disejumlah media lokal dan nasional tidak benar, karena yang dimaut adalah pernyataan Ligadiansyah, menggingat Ligadiansyah sudah tiga bulan lalu dia diberhentikan. Dengan kata lain Liga tidak punya kapasitas legal untuk mengeluarkan stetmen menyanggkut PA, lebih lagi stettment yang dikeluarkanya bohong.

Sabtu, 25 Desember 2010

WANITA REMANG-REMANG

Rabu 22 desember, kira-kira malam itu sudah 23.40 wib dimuka tribun bermusik remang-remang dipinggir jalan bersebelahan dengan bank mandiri, duduk tegap laki-laki dengan seorang wanita dengan pakaian pas berdiri disampingnya, tiba-tiba wanita itu mendekatkan wajahnya kea rah bibir si pria, suasana ganjil itu tidak dengan sengaja tersapu mata, perbuatan melanggar syariat dilakukan saat gerimis turun tarun tanpa henti seluruh kawasan ibukota pemerintah Aceh. Seperti tak peduli keadaan, kenderaann masih lalulalang sekitar lintasan itu. malam sunyi itu kebetulan saya melintas dijalan teungku Muhammad daud breueh, untuk menjemput teman diasrama IPPAT (Ikatan Pemuda dan Pelajar Aceh Timur).

Pemandangan ganjil itu membuat hati ini bertanya-tanya, rasa ingin tua terus saja menghantui sepanjang perjalanan menuju Lingkee, sempat terlupa sekejap ketika berada diasrama, karena sobat yang ingin saya cari itu tidak ada ditempat. Jak meureuno rapa i (belajar Rapa i) ditaman ratu safiatuddin, kata teman yang bersebelahan kamar dengan dia. boleh dikatakan agak panik karena jam sudah menunjukkan pukul 24, 15 wib, dia belum juga pulang, saya pun sempat memeriksanya ke taman budaya itu, tapi tidak terlihat tanda-tanda ada kegiatan belajar alat music tradisional itu, munkin mereka sudah kembali saat saya menuju kesini, karena jalur dua munkin yang memisahkan, maka kami tidak bertemu dijalan.
Rasa ingin tau semakin menjadi ketika dalam perjalanan pulang melintas didepan gedung DPRA, mata terus saja menyapu pinggiran jalan teungku Muhammad Daud Beureueh, rupanya gadis-gadis itu masih ditempat yang sama, akhirnya penasaran itu pupus seketika.